PHP 

Scripts, Resources, Reviews
Tampilkan postingan dengan label ROHIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ROHIS. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 September 2015

Keteladanan Baginda Nabi

http://islamiwiki.blogspot.co.id/2013/05/keteladanan-nabi-mjurah-hati-akhlak.html?m=1

Minggu, 14 Agustus 2011

TANDA - TANDA KEGAGALAN DI BULAN RAMADHAN


Di bulan Ramadhan, pintu neraka ditutup dan pintu syurga dibuka lebar-lebar. Namun banyak orang gagal mendapatkan kemuliaannya. Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan beberapa kiat-Kiat menghindari gagalnya Ramadhan.

1. Kurang melakukan persiapan di bulan Sya’ban.

Misalnya, tidak tumbuh keinginan melatih bangun malam dengan shalat tahajjud. Begitupun tidak melakukan puasa sunnah Sya’ban, sebagaimana telah disunnahkan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadits Bukhari dan Muslim, dari Aisyah Radhiallaahu ‘anha berkata, ”Saya tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan, dan saya tidak pernah melihat beliau banyak berpuasa selain di bulan Sya’ban.”

2. Gampang mengulur shalat fardhu.

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan. kecuali orang-orang yang bertaubat dan beramal shalih.” (QS Maryam: 59)


“Celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dalam shalatnya.” (Al-Ma’un: 4-5)

Menurut Sa’id bin Musayyab, yang dimaksud dengan tarkush-shalat (meninggalkan shalat) ialah tidak segera mendirikan shalat tepat pada waktunya. Misalnya menjalankan shalat zhuhur menjelang waktu ashar, ashar menjelang maghrib, shalat maghrib menjelang isya, shalat isya menjelang waktu subuh serta tidak segera shalat subuh hingga terbit matahari. Orang yang bershiyam Ramadhan sangat disiplin menjaga waktu shalat, karena nilainya setara dengan 70 kali shalat fardhu di bulan lain.

3. Malas menjalankan ibadah-ibadah sunnah.

Termasuk di dalamnya menjalankan ibadah shalatul-lail. Mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah merupakan ciri orang yang shalih.

90. Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung.“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (Al-Anbiya:90)

“Dan hamba-Ku masih mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah, sampai Aku mencintainya.” (Hadits Qudsi)

4. Kikir dan rakus pada harta benda.

Takut rugi jika mengeluarkan banyak infaq dan shadaqah adalah tandanya. Salah satu sasaran utama shiyam agar manusia mampu mengendalikan sifat rakus pada makan minum maupun pada harta benda, karena ia termasuk sifat kehewanan (Bahimiyah). Cinta dunia serta gelimang kemewahan hidup sering membuat manusia lupa akan tujuan hidup sesungguhnya.
Mendekat kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala, akan menguatkan sifat utama kemanusiaan (Insaniyah).

5. Malas membaca Al-Qur’an.

Ramadhan juga disebut Syahrul Qur’an, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an. Orang-orang shalih di masa lalu menghabiskan waktunya baik siang maupun malam Ramadhan untuk membaca Al-Qur’an.

“Ibadah ummatku yang paling utama adalah pembacaan Al-Qur’an.” (HR Baihaqi) “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya“. (HR Bukhari)
Ramadhan adalah saat yang tepat untuk menimba dan menggali sebanyak mungkin kemuliaan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup. Kebiasaan baik ini harus nampak berlanjut setelah Ramadhan pergi, sebagai tanda keberhasilan latihan di bulan suci.

6. Mudah mengumbar amarah.

Ramadhan adalah bulan kekuatan. Nabi Saw bersabda: “Orang kuat bukanlah orang yang selalu menang ketika berkelahi. Tapi orang yang kuat adalah orang yang bisa menguasai diri ketika marah.” Dalam hadits lain beliau bersabda: “Puasa itu perisai diri, apabila salah seorang dari kamu berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan jangan membodohkan diri. Jika ada seseorang memerangimu atau mengumpatmu, maka katakanlah sesesungguhnya saya sedang berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

7. Gemar bicara sia-sia dan dusta.

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta perbuatan Az-Zur, maka Allah tidak membutuhkan perbuatan orang yang tidak bersopan santun, maka tiada hajat bagi Allah padahal dia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah)

Kesempatan Ramadhan adalah peluang bagi kita untuk mengatur dan melatih lidah supaya senantiasa berkata yang baik-baik.
Umar ibn Khattab Ra berkata: “Puasa ini bukanlah hanya menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi juga dari dusta, dari perbuatan yang salah dan tutur kata yang sia-sia.” (Al Muhalla VI: 178)
Ciri orang gagal memetik buah Ramadhan kerap berkata di belakang hatinya. Kalimat-kalimatnya tidak ditimbang secara masak: “Bicara dulu baru berpikir, bukan sebaliknya, berpikir dulu, disaring, baru diucapkan.”

8. Memutuskan tali silaturrahim.

Ketika menyambut datangnya Ramadhan Rasulullah Saw bersabda: “…Barangsiapa menyambung tali persaudaraan (silaturrahim) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya…” Puasa mendidik pribadi-pribadi untuk menumbuhkan jiwa kasih sayang dan tali cinta.

Pelaku shiyam jiwanya dibersihkan dari kekerasan hati dan kesombongan, diganti dengan perangai yang lembut, halus dan tawadhu. Apabila ada atau tidak adanya Ramadhan tidak memperkuat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan, itu tanda kegagalan.

9. Menyia-nyiakan waktu.

Al-Qur’an mendokumentasikan dialog Allah Swt dengan orang-orang yang menghabiskan waktu mereka untuk bermain-main.

“Allah bertanya: ‘ Berapa tahunkan lamanya kamu tinggal di bumi?
Mereka menjawab: ‘Kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari. maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’
Allah berfirman: ‘Kamu tidak tingal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui. “Maka apakah kamu mengira sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang sebenarnya; tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Tuhan yang mempunyai ‘Arsy yang mulia.” (Al-Mu’minun: 112-116)

Termasuk gagal dalam ber-Ramadhan orang yang lalai atas karunia waktu dengan melakukan perbuatan sia-sia, kemaksiatan, dan hura-hura. Disiplin waktu selama Ramadhan semestinya membekas kuat dalam bentuk cinta ketertiban dan keteraturan.

10. Labil dalam menjalani hidup.

Labil alias perasaan gamang, khawatir, risau, serta gelisah dalam menjalani hidup juga tanda gagal Ramadhan. Pesan Rasulullah Saw:

“Sesungguhnya telah datang bulan Ramadhan yang penuh berkah. Allah telah memfardhukan atas kamu berpuasa di dalamnya. Dibuka semua pintu surga, dikunci semua pintu neraka dan dibelenggu segala syetan. Di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tiada diberikan kebajikan malam itu, maka sungguh tidak diberikan kebajikan atasnya.” (HR Ahmad, Nasa’i, Baihaqi dari Abu Hurairah)

Bila seseorang meraih berkah bulan suci ini, jiwanya mantap, hatinya tenteram, perasaannya tenang dalam menghadapi keadaan apapun.

11. Tidak bersemangat mensyiarkan Islam.

Salah satu ciri utama alumnus Ramadhan yang berhasil ialah tingkat taqwa yang meroket. Dan setiap orang yang ketaqwaannya semakin kuat ialah semangat mensyiarkan Islam. Berbagai kegiatan ‘amar ma’ruf nahiy munkar dilakukannya, karena ia ingin sebanyak mungkin orang merasakan kelezatan iman sebagaimana dirinya. Jika semangat ini tak ada, gagal lah Ramadhan seseorang.

12. Khianat terhadap amanah.

Shiyam adalah amanah Allah yang harus dipelihara (dikerjakan) dan selanjutnya dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak.

Shiyam itu ibarat utang yang harus ditunaikan secara rahasia kepada Allah. Orang yang terbiasa memenuhi amanah dalam ibadah sir (rahasia) tentu akan lebih menepati amanahnya terhadap orang lain, baik yang bersifat rahasia maupun yang nyata. Sebaliknya orang yang gagal Ramadhan mudah mengkhianati amanah, baik dari Allah maupun dari manusia.

13. Rendah motivasi hidup berjama’ah.

Frekuensi shalat berjama’ah di masjid meningkat tajam selama Ramadhan. Selain itu, lapar dan haus menajamkan jiwa sosial dan empati terhadap kesusahan sesama manusia, khususnya sesama Muslim. Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang berjuang secara berjama’ah, yang saling menguatkan.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam saatu barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaf: 4)
Ramadhan seharusnya menguatkan motivasi untuk hidup berjama’ah.

14. Tinggi ketergantungannya pada makhluk.

Hawa nafsu dan syahwat yang digembleng habis-habisan selama bulan Ramadhan merupakan pintu utama ketergantungan manusia pada sesama makhluk. Jika jiwa seseorang berhasil merdeka dari kedua mitra syetan itu setelah Ramadhan, maka yang mengendalikan dirinya adalah fikrah dan akhlaq. Orang yang tunduk dan taat kepada Allah lebih mulia dari mereka yang tunduk kepada makhluk.

15. Malas membela dan menegakkan kebenaran.

Sejumlah peperangan dilakukan kaum Muslimin melawan tentara-tentara kafir berlangsung di bulan Ramadhan. Kemenangan Badar yang spektakuler itu dan penaklukan Makkah (Futuh Makkah) terjadi di bulan Ramadhan. Di tengah gelombang kebathilan dan kemungkaran yang semakin berani unjuk gigi, para alumni akademi Ramadhan seharusnya semakin gigih dan strategis dalam membela dan menegakkan kebenaran. Jika bulan suci ini tidak memberi bekal perjuangan baru yang bernilai spektakuler, maka kemungkinan besar ia telah meninggalkan kita sebagai pecundang.

16. Tidak mencintai kaum dhuafa.

Syahru Rahmah, Bulan Kasih Sayang adalah nama lain Ramadhan, karena di bulan ini Allah melimpahi hamba-hamba- Nya dengan kasih sayang ekstra. Shiyam Ramadhan menanam benih kasih sayang terhadap orang-orang yang paling lemah di kalangan masyarakat. Faqir miskin, anak-anak yatim dan mereka yang hidup dalam kemelaratan. Rasa cinta kita terhadap mereka seharusnya bertambah. Jika cinta jenis ini tidak bertambah sesudah bulan suci ini, berarti Anda perlu segera instrospeksi.

17. Salah dalam memaknai akhir Ramadhan.

Khalifah Umar ibn Abdul Aziz memerintahkan seluruh rakyatnya supaya mengakhiri puasa dengan memperbanyak istighfar dan memberikan sadaqah, karena istighfar dan sadaqah dapat menambal yang robek-robek atau yang pecah-pecah dari puasa. Menginjak hari-hari berlalunya Ramadhan, mestinya kita semakin sering melakukan muhasabah (introspeksi) diri.

“Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr: 18 )

18. Sibuk mempersiapkan Lebaran.

Kebanyakan orang semakin disibukkan oleh urusan lahir dan logistik menjelah Iedul Fitri. Banyak yang lupa bahwa 10 malam terakhir merupakan saat-saat genting yang menentukan nilai akhir kita di mata Allah dalam bulan mulia ini. Menjadi pemenang sejati atau pecundang sejati.

Konsentrasi pikiran telah bergeser dari semangat beribadah, kepada luapan kesenangan merayakan Idul Fitri dengan berbagai kegiatan, akibatnya lupa seharusnya sedih akan berpisah dengan bulan mulia ini.

19. Idul Fitri dianggap hari kebebasan.

Secara harfiah makna Idul Fitri berarti “hari kembali ke fitrah”. Namun kebanyakan orang memandang Iedul Fitri laksana hari dibebaskannya mereka dari “penjara” Ramadhan. Akibatnya, hanya beberapa saat setelah Ramadhan meninggalkannya, ucapan dan tindakannya kembali cenderung tak terkendali, syahwat dan birahi diumbar sebanyak-banyaknya. Mereka lupa bahwa Iedul Fitri seharusnya menjadi hari di mana tekad baru dipancangkan untuk menjalankan peran khalifah dan abdi Allah secara lebih profesional.

Kesadaran penuh akan kehidupan dunia yang berdimensi akhirat harus berada pada puncaknya saat Iedul Fitri, dan bukan sebaliknya.
Allahualam bisowab.

(dikutip dari Hidayatullah.com,blog.jashtis.org/tarbiyah/)



Follow riodarmala on Twitter
free counters

Senin, 08 Agustus 2011

Niat Puasa, Qadha puasa dan lain-lain


Assalamualaikum wbt…

Saya telah mencari jawapan di ruangan arkib tapi masih ada beberapa soalan yg masih saya keliru berkenaan hal puasa ini. Diharap pihak Al-Ahkam atau sesiapa saja dapat membantu saya.

1) Bagaimanakah niat puasa sunat dan niat qada puasa? (saya ada mencari dalam beberapa buku agama, cuma yg diterangkan niat puasa Ramadhan sahaja).

2) Apakah hukum berkumur dan memasukkan air ke dalam hidung ketika mengambil wuduk di bulan puasa?

3) Benarkah pernyataan seperti di bawah ini:

a) Menelan air liur tidak batal puasa kecuali air liur di antara 2 bibir?
b) Menelan hingus/kahak batal puasa kerana ianya boleh dihindar?
c) Menggosok gigi, miswak dan berkumur tidak batal puasa asalkan tidak sampai masuk ke dalam perut?
d) Masuk air ke dalam telinga tidak batal puasa?
e) Keluar mani kerana mimpi ketika tidur di siang hari bulan puasa, tidak batal puasa tetapi kena mandi wajib?
f) Utk menggantikan puasa Ramadhan yg ditinggalkan dahulu, memadai dgn qada saja, tidak perlu bayar fidyah?
g) Boleh berpuasa di Hari Syak jika ianya kebetulan jatuh pada hari kebiasaan kita berpuasa sunat seperti puasa sunat hari Isnin dan Khamis?

Wassalam….jawapan:

wa’alaikumussalam
Alhamdulillah. Kami akan cuba menjawab soalan sdr Al-Hafiz dengan kadar kemampuan yang ada, Insyaallah.

1) Bagaimanakah niat puasa sunat dan niat qada puasa?
- Niat merupakan azam untuk melakukan sesuatu ibadat, dan letaknya di hati. Jika anda berazam ingin melakukan qadha’ puasa sebelum menjelang fajar, maka itulah yang dikatakan niat. Ini sudah memadai dan tidak perlu melakukan lafaz niat.

2) Apakah hukum berkumur dan memasukkan air ke dalam hidung ketika mengambil wuduk di bulan puasa?
- Imam al-Bukhari didalam sahihnya menyatakan hadith :-

إذا توضا فليستنشق بمنخره الماء
“Apabila seseorang mengambil wudhu’ maka hendak beristinsyaq (masuk air kedalam hidung)” – bermaksud ‘Tidak dibezakan diantara orang yang berpuasa dan tidak berpuasa’ (Fath al-Bari, 7/62). Dr Yusuf al-Qaradhawi menyebut bahawa ada dikalangan salaf mengatakan ia tidak membatalkan puasa tetapi perbuatan tersebut dilarang.

3) Benarkah pernyataan seperti di bawah ini:

a) Menelan air liur tidak batal puasa kecuali air liur di antara 2 bibir?
- Benar, Menelan air liur didalam mulut tidak membatalkan puasa. Ibn Qudamah mengatakan bahawa perkara ini agak sukar dielakkan sepertimana debu dijalan atau dilantai (al-Mughni 3/16). Jika lidah yang mengandungi air liur terjulur keluar sebentar dan masuk kembali, ia tidak membatalkan puasa, oleh kerana pergerakan lidah dikira sebagai sebahagian dari pergerakan mulut.(Haashiyat Qalyoobi, 2/72).

- Menurut Mazhab Syafie, air liur yang diluar mulut atau berada diantara 2 bibir menelannya boleh membatalkan puasa, kerana perkara ini boleh dielakkan.

b) Menelan hingus/kahak batal puasa kerana ianya boleh dihindar?
- Tidak batal puasa menurut Lajnah al-Daa’imah (1/270) kerana hukum menelan lendir hingus semasa puasa adalah sama hukum telan air liur. Ulama’ menasihatkan agar lendir (mucus) tersebut dikeluarkan kerana menurut Sheikh Utsaimin lendir ini sebagai sesuatu benda yang kotor, dan tidak wajar ditelan.

c) Menggosok gigi, miswak dan berkumur tidak batal puasa asalkan tidak sampai masuk ke dalam perut?
- Tidak batal puasa kalau bersiwak, menggosok gigi atau berkumur dengan syarat tidak menelan air tersebut. Syiekh bin Baaz mengatakan boleh menggunakan ubat gigi asalkan dapat mengelak dari menelannya (Fataawa Bin Baaz, 4/247). Syeikh Ibn Utsaimin mengatakan, lebih elok memberus gigi diwaktu malam (Al-Sharh al-Mumti, 6/407, 408).

d) Masuk air ke dalam telinga tidak batal puasa?
- Syiekh Ibn Taimiyah mengatakan bahawa menggunakan ubat mata (eyedrops) dan ubat telinga (eardrops) tidak membatalkan puasa (Majmu’ Fataawa, 25/233, 25/245).

e) Keluar mani kerana mimpi ketika tidur di siang hari bulan puasa, tidak batal puasa tetapi kena mandi wajib?
- Syiekh Ibn Qudaamah menyatakan bahawa :’Jika seseorang mengalami mimpi sehingga terkeluar mani tidak membatalkan puasa, kerana ini merupakan tindakan tidak sengaja dari pihaknya; sama seperti kes sesesuatu yang yang keluar dari tekaknya semasa di sedang tidur’ (al-Mughni, 3/22). Maka hendaklah dia meneruskan puasa dan mandi (wajib) menghilangkan janabah.

f) Utk menggantikan puasa Ramadhan yg ditinggalkan dahulu, memadai dgn qada saja, tidak perlu bayar fidyah?
- Pendapat ini (Qadha’ tanpa fidyah) didokong oleh al-Nakha’i, Abu Hanifah dan sahabat2nya. Syiekh Dr Yusuf al-Qardhawi dialam kitab Fiqh al-Shiyam mengatakan bahawa hukum mengqadha’ dan membayar fidyah tidaklah datang dari dalil yang sahih dan hanya melalui atsar para sahabat. Hendaklah kita mengambil dari sahabat perkara2 yang berkenaan dengan sunnah dan bukan perkara wajib, sebab yang wajib memerlukan dalil dari Rasulullah .

g) Boleh berpuasa di Hari Syak jika ianya kebetulan jatuh pada hari kebiasaan kita berpuasa sunat seperti puasa sunat hari Isnin dan Khamis?
- Dr Mustafa al-Bugha (Fiqh al-Manhaji, 1/361) mengatakan bahawa tidak boleh berpuasa pada hari syak, sebagaimana dithabitkan dari hadith Abu Daud #2334 dan al-Tirmudzi (686) :-

وقال عمار بن ياسر من صام اليوم الذي يُشك فيه فقد عصى أبا القاسم صلى الله عليه وسلم
“Ammar ibn Yaasir berkata : barangsiapa berpuasa pada hari syak oleh manusia maka dia telah mengkianati Abu al-Qaasim (Rasulullah )”

Al-Hafiz Ibn Hajar berkata :”difahami dari perkara ini bahawa adalah haram berpuasa pada hari syak, kerana Sahabat tidak akan berkata demikian berdasarkan pandangan pribadi, maka riwayat yang sedemikian mempunyai status yang sama dengan marfu’ hadith.”

Wassalam


Follow riodarmala on Twitter
free counters

Makna Puasa yang Sebenarnya


Pada bulan suci ini, saya mencoba menulis tentang macam2 puasa dan hakekat didalamnya, tapi yg perlu diperhatikan ini adalah hakekat terjemahan "versi saya" atau yg sependapat dengan saya dan bukan atas nama agama lebih2 atas nama Tuhan, tentu saja masih jauh dari kebenaran sejati ditangan Tuhan.

Puasa sebenarnya sudah diperintah Allah jauh sebelum Nabi SAW, misalnya pada waktu jaman Nabi Musa as kewajiban puasa selama 40 hari dan waktu buka dan sahur bersamaan, jadi berpuasa hampir 24 jam sehari, pada waktu nabi Isa as berpuasa hanya minum air putih selama 40 hari dsb. Puasa itu dimaksudkan tidak hanya sekedar memenuhi kewajiban tapi lebih karena segala sesuatunya kuat karena Allah, "laa hawla walaa quwwata illa billahi" bukannya "laa hawla walaa quwwata illa sego pecel ndok ceplok". Oleh karea itu orang yg berpuasa walaupun tidak madhang (makan) tapi tetap padhang (terang) bukannya malah loyo dan pucat karena mengharap-harap waktu maghrib tiba.

Puasa menurut Al Ghazali dibagi kedalam 3 tingkatan yaitu

Tingkatan awam
ditingkatan ini adalah orang2 hanya tidak makan minum dan bersetubuh di siang hari, tapi mata, mulut, telinga serta tangan dan kaki tidak berpuasa, mereka tetap bergosip, tidak menjaga pandangan, suka nguping serta tidak menjaga emosi dan masih diliputi amarah, ini adalah puasa orang2 yg merugi yaitu orang yg berpuasa tapi hanya mendapatkan lapar dan haus, ironisnya ini puasanya kebanyakan umat islam sekarang.

Tingkatan khusus
Puasa yg sebenarnya dimulai dari tingkatan ini, tidak hanya menjaga dari makan minum serta bersetubuh, tapi panca inderanya juga berpuasa, orang2 yg berpuasa di tingkatan ini termasuk orang yg beruntung dan hanya sedikit umat islam yg berpuasa ditingkatan ini.

Tingkatan khususnya khusus
ini adalah tingkatan tertinggi, tidak hanya cukup menjaga makan minum bersetubuh serta panca indera waktu berpuasa tapi juga menjaga bathin dan pikirannya dari membayangkan makan minum atau bersetubuh. Apabila saya mengandai andai bahwa buka puasa nanti akan berbuka dengan es campur maka puasa saya telah batal pada tingkatan ini. Orang2 yg berpuasa ditingkatan ini termasuk yg sangat beruntung dan sangat sedikit umat islam yg berpuasa ditingkatan ini, Berpuasa ditingkatan ini sudah tidak mengharap pahala lagi tapi mengharap ridho Allah, ikhlas karena Allah dan hanya Allah yg menilai puasa kita.

Setelah kita mengetahui bahwa puasa itu sebenarnya karena Allah dan segala pahala yg diberikan kita pasrahkan kepada Allah, maka kita lanjutkan membahas macam2 puasa dimulai dari yg paling dasar

Puasa wajib bulan ramadhan
Ini adalah puasa yg wajib dan paling wajib, umat Islam berkewajiban berpuasa dibulan ini selama masih mampu, apabila berhalangan maka diwajibkan pula utk mengganti di waktu lain, apabila tidak mampu mengganti diwaktu lain maka diwajibkan membayar fidyah sejumlah tertentu, apabila tidak mampu berpuasa dan membayar fidyah maka cukuplah utk menyantuni anak istrinya, inilah indahnya islam, apabila benar2 tidak mampu maka tidak ada paksaan baginya.

Bulan ramadhan juga dibagi kedalam 3 bagian, 10 hari yg pertama adalah yg penuh rahmat Allah, Allah merangsang manusia utk beribadah melalui jiwa2 yg tenang (muthmainah) yg ada didalam diri kita, hanya jiwa2 yg tenang atau nafsu muthmainah yg bisa mendengar panggilan Allah yg maha mencinta dan kasih sayang, kemudian 10 hari kedua yg penuh dengan ampunanNya, ampunan bagi y bertobat dan juga bagi yg berniat tobat walaupun belum kesampaian, kita berniat tobat saja sudah mendapat pahala walaupun tobatnya tertunda-tunda, akan tetapi seharusnyalah kita mewujudkan tobat kita dengan menyesal, bertekad utk tidak mengulangi kesalahan serta meningkatkan kualitas ibadah kita, tapi dibulan ramadhan ini tobat kita akan jauh lebih mudah utk diwujudkan serta diterima olehNya, yakinlah itu asal menyesal dan meningkatkan kualitas ibadah kita. Kemudian 10 hari terakhir pembebasan dari api neraka, api neraka ini yg dimaksud adalah setelah tobat kita diterima maka diri kita beserta jiwa kita akan terbebas dari kotoran2 dan karat yg menempel yg di hari akhir kelak menjelma menjadi api neraka yg membakar kita dan Allah membebaskannya dari itu karena Allah maha pengampun serta maha penyayang.

Bulan ramadhan adalah puncak dari ibadah kita kepada Allah selama 12 bulan, dimulai dari bulan syawal yg bisa juga diartikan awal, awal dari ibadah kita kepada Allah selama setahun dan diakhiri pada bulan ramadhan, maka dari itu lailatul qadar biasanya jatuh pada bulan ramadhan, mengapa kok biasanya dan bukan selalu? menurut saya lailatul qadar itu adalah pertemuan antara Allah dan hambaNya secara non fisik dan secara tidak langsung melalui malaikat2Nya, juga pertemuan itu setiap orang berbeda-beda pengalaman dan waktunya, pertemuan itu ibarat diterangi seribu cahaya bulan, senangnya ibarat melihat wanita cantik 1000 jadi satu, pahalanya ibarat beribadah selama 1000 bulan, sungguh kenikmatan yg luar biasa bagi yg mengalaminya, dan biasanya malam lailatul qadar secara umum itu jatuh pada tanggal 27 ramadhan karena mungkin puncak dari peribadahan kebanyakan umat islam di bulan ramadhan itu pada tgl 27 itu, tapi utk mendapatkannya ya jelas tidak mungkin hanya beribadah pada bulan ramadhan saja lebih2 pada malam2 ganjil saja lebih2 lagi beriktikaf hanya pada malam 27 saja, dijamin kecele. Di bulan inilah pahala orang yg beribadah dilipatgandakan tapi yg paling baik adalah beribadah karena Allah bukannya mengharap pahala semata.

Puasa syawal
Setelah memasuki bulan syawal yg ditandai dengan hari raya Idul Fitri yg artinya kembali ke fitrah atau suci, maka kita disunnahkan utk berpuasa syawal selama enam hari bisa berturut-turut atau tidak berurutan yg pasti masih dibulan syawal, barang siapa berpuasa enam hari dibulan syawal maka dosanya selama setahun yang lalu dan setahun yg akan datang akan diampuni olehNya, ini jangan disalah artikan puasa syawal otomatis menghapus dosa kita dan kita bisa seenaknya berbuat maksiat setelah puasa syawal karena dijamin diampuni, tapi makna diampuni adalah dosa2 setahun yg lalu akan tertutupi oleh peningkatan kualitas peribadahan kita setahun yg akan datang, apabila kita mengalami peningkatan kualitas ibadah maka otomatis juga bertobat secara bersungguh sungguh, apa mungkin kita mengalami kualitas ibadah dengan tidak bertobat secara sungguh2? hampir tidak mungkin, sebab dosa kecil itu ibarat debu di kaca, dosa besar ibarat karat dibesi yg terus menggerogoti amal ibadah kita sampai habis apabila tidak ditanggulangi dan cara utk membersihkan karat di hati dengan cara tobat nasuha atau secara sungguh2.

Bulan syawal bisa juga diartikan peningkatan, yaitu peningkatan kualitas ibadah kita dari ramadhan ditingkatkan lagi dibulan syawal dan ditingkatkan lagi dibulan2 berikutnya hingga kembali ke ramadhan lagi, jadi ritme yg terbaik adalah terus menanjak, inilah termasuk golongan orang2 yg beruntung.

Puasa tengah bulan
setelah lulus dari berpuasa syawal secara sungguh2 maka dianjurkan utk mengerjakan puasa pada tanggal 13, 14, 15 di tengah bulan, konon pada tengah bulan ini disamping bulan purnama juga ma'ul hayat (air kehidupan) kita sedang pasang maka pada tanggal2 ini kita sedang mudah utk jatuh cinta, utk mengatasi hal ini supaya tidak terjadi hal2 yg tdk diinginkan maka dianjurkan utk berpuasa supaya segala cinta kasih kita lebih2 yg menyimpang utk dikembalikan kepada Yang Maha Mencinta.

Energi cinta yang tidak terkendali pada waktu ma'ul hayat kita naik akan dikumpulkan dengan cara puasa tengah bulan, serta utk dipurba diri atau ditingkatkan kualitas cintanya menjadi cinta karena Allah, apabila Tono mencintai Ngatemi maka cinta Tono yg benar adalah, Tono memang mencintai Ngatemi tapi lebih cinta terhadap Allah dibalik Ngatemi dalam arti Ngatemi yg sudah ikhlas dan diambil oper oleh Allah segala kehendak serta hak miliknya lebih dicintai Tono, inilah muara yg sebenarnya dari cinta kasih asmara yg benar, segala sesuatunya harus bisa dimuarakan ke Allah yg maha mencinta

Puasa senin kemis
setelah kita lulus puasa tengah bulan maka tahapan berikutnya adalah puasa senin kamis atau kemis yaitu puasa mingguan yg juga dikerjakan Nabi SAW, makna senin kamis kalau menurut othak athik gathuk mathuk adalah supaya kita hanya mengemis kepada Allah, hanya kepadaNya kita meminta dan berdoa, bukan pada yg lainnya. Hari2 para pengemis adalah hari kamis, sekarang kamis, besok kamis, kemarin juga kamis karena mereka hanya mengemis, orang yg bisanya cuma mengemis tidak akan pernah sampai pada hari jumat, bahkan juga tidak pernah mengalami hari2 lainnya selain kamis, seperti negara kita tercinta ini apabila masih mengemis pada World Bank, CGi, IMF maka bangsa indonesia adalah bangsa ngemis dan hanya berhenti pada hari kamis. Nah supaya kita segera beranjak dari hari kamis ke jumat maka dianjurkan utk berpuasa senin kamis, hari jumat adalah hari raya mingguan bagi umat islam, oleh karena itu tidak dianjurkan utk berpuasa sunnah dihari jumat. Apabila sudah bisa mewujudkan bahwa kepadaNya lah kita meminta dan berdoa maka kita akan menyadari bahwa kita itu tidak punya apa2 bahkan rasa punya pun tidak ada dan juga tidak berdaya apa2, semua digerakkan oleh Allah melalui malaikat2Nya, detak jantung, aliran darah serta gerak alat pencernaan kita digerakkkan oleh malaikat2Nya tanpa kita sadari dan bahkan tanpa kita syukuri organ2 tubuh kita tetap bekerja semestinya, inilah kasih sayang Allah yg meliputi yg bersyukur maupun yg kufur.

Puasa Dawud
Puasa Dawud konon dikerjakan oleh Nabi Dawud as, cara pengerjaannya adalah seperti puasa wajib tapi sehari berpuasa sehari tidak, Nabi Dawud as terkenal akan kesaktiannya yg mampu mengendalikan besi serta apabila beliau murung maka bunga2 serta tumbuhan ikut layu, apabila beliau senang maka bunga2 akan ikut segar kembali mengikuti kegembiraan sang Nabi Dawud as, salah satu keutamaan puasa dawud adalah menyelaraskan energi di diri kita thd alam semesta dan seolah olah alam semesta ini takluk oleh kehendak kita atas ridho Allah tentunya, tapi semua itu bisa terwujud apabila kita berpuasa dawud secara ikhlas mengharap ridhoNya bukan mengharap yg lainnya, puasa dawud juga mengajarkan kita utk sabar ketika berpuasa serta syukur ketika berbuka, lama2 kita akan selalu sabar dan syukur dalam segala kondisi dan situasi.

Puasa dawud adalah puncak dari tahapan puasa menurut apa yg dikerjakan Nabi SAW, tentunya apa yg dicontohkan beliau terutama akhlaknya adalah yg utama kita ikuti, apabila ada yg ingin menjalankan puasa apit weton, ngrowot, mutih, pati geni dsb yg bersifat tradisi hendaknya mengikuti tahapan2 diatas terlebih dahulu supaya niat kita lurus, ikhlas karena Allah, dan puasa2 tradisi bersifat opsional bagi yg berpendapat boleh dilakukan, apabila yg berpendapat itu adalah bid'ah ya terserah asal bisa menghormati pendapat satu sama lain dan tidak mencari pembenaran atas diri sendiri.

Saya kira inilah tahapan2 dalam berpuasa yg hendaknya kita lakukan utk mencapai kualitas keimanan tertinggi disisiNya, diatas segala ibadah puasa adalah niat yg ikhlas karena Allah, tanpa niat segala ibadah akan seperti tubuh tanpa ruh atau mayat, sedangkan niat tanpa disertai perbuatan seperti ruh yg gentayangan seperti hantu, maka niat yg ikhlas, kerjakan dengan penuh sabar dan syukur kepada Allah sebab tanpa ridhoNya segala amal ibadah kita sebanyak apapun akan sia2.


Follow riodarmala on Twitter
free counters

Rabu, 03 Agustus 2011

Meraih Puncak Prestasi di Bulan Ramadhan





Meraih Puncak Prestasi di Bulan Ramadhan
oleh: Wildan Hasan

“Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kalian berpuasa, sebagaimana juga telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian supaya kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.” (Qs Al-Baqarah 183).

Suatu ketika direktur perusahaan di tempat anda bekerja memanggil anda ke kantornya. Ia memberitahukan bahwa berkat prestasi kerja anda selama ini, anda akan dipromosikan untuk menduduki jabatan yang prestisius. Namun dengan satu syarat, pekan depan anda harus mengikuti seleksi kerja satu bulan penuh. Seleksi yang setelah anda tanyakan ternyata relatif ringan bahkan dengan bonus yang menggiurkan. Bagaimana tidak hanya dengan melakukan kerja yang standar anda akan dapat bonus 10 kali lipat bahkan sampai 700 kali lipat. Ternyata itu belum seberapa, anda pun dijanjikan jika berhasil melewati seleksi tahap akhir dengan predikat sangat memuaskan maka anda akan diberikan jaminan kebutuhan hidup selama 83 tahun lebih. Wow! Sangat menggiurkan.

Anda pun jelas, sangat menunggu-menunggu waktu itu tiba, anda begitu hanyut dalam kerinduan penantian. Anda merasa waktu berjalan sangat lamban, lebih lamban dari siput di pinggir sawah pak tani. Anda heran melihat jarum jam seolah berdetak malas-malasan, padahal baterainya baru anda ganti dua hari kemarin. Aaah…

Pun perbekalan telah anda siapkan sepulang dari kantor direktur anda, bahkan telah anda cek berulang-ulang khawatir ada yang terlewat dari catatan anda. Skill kerja anda yang telah lama menjadi decak kagum partner kerja anda, makin anda asah jauh lebih berkilat daripada zamrud dari India sekalipun. Bahan-bahan dan petunjuk kerja telah anda pelajari berulang-ulang, bahkan istri anda mengira anda telah jatuh hati pada buku-buku itu dan menjadikannya istri muda anda. Amboi, kerinduan memang memabukkan.

Pembaca yang dirahmati Allah,

Kiranya sudah mulai pahamkah anda akan saya bawa ke mana arah cerita ini? Tentu sebagai muslim yang cerdas anda akan sontak menjawab “Inilah Ramadhan yang akan kita jumpai saat ini.”

Ya, inilah Ramadhan. Bulan yang selain gaji tetap, akan didapatkan juga bonus 10 hingga 700 kali lipat bahkan bisa jauh lebih besar daripada itu. Bahkan jika prestasi seleksi amalan di bulan ini konsisten sampai akhir, maka bonus pahala 1000 bulan (83 tahun lebih) bisa anda raih.

Bulan yang telah Allah informasikan kepada anda 1500 tahun yang lalu, tidak seperti direktur anda yang memberikan informasi hanya sepekan sebelum hari H. Jelas sekali persiapan dan perbekalan anda akan jauh lebih paripurna. Aneh nian, jika anda masih ragu dan gagap saat Ramadhan tiba padahal anda punya waktu 11 bulan untuk bersiap-siap menyambutnya. Bahkan anda sudah mengetahuinya sepanjang hayat anda.

Lihatlah para shahabat Rasulullah SAW, manusia-manusia langit itu luar biasa gembira menyambut Ramadhan dan luar biasa pilu ditinggal Ramadhan. Mereka berharap setahun itu bulannya adalah Ramadhan semua. Layaknya anda yang begitu meluap kegembiraan saat bulan seleksi itu tiba menghampiri anda. Kegairahan memuncak untuk menelusuri satu ibadah yang Allah berkenan memberikan pahala melimpah-ruah secara langsung.

Allah menyeleksi manusia, kira-kira manusia macam apakah yang akan sanggup melaksanakan aturannya yang ini. Ternyata Allah mengatakan “Wahai orang-orang yang beriman”, duhai berbahagialah orang yang beriman kepada Allah karena mereka lulus seleksi, yang bukan hanya mengaku Islam, karena predikat muslim saja tidak cukup layak mengikuti lomba super hebat di bulan Ramadhan. Mereka tidak akan mampu, akan kepayahan…

Mereka, yang hanya Islam saja, sebagaimana sudah Rasulullah ingatkan “Betapa banyak orang yang shaum namun tidak mendapatkan apa-apa dari shaumnya kecuali rasa lapar dan dahaga.”

Mereka tidak tahan untuk tidak makan minum, tidak tahan untuk konsisten shalat tarawih, tidak tahan berlama-lama membaca Al-Qur’an, tidak tahan untuk tidak mencaci orang lain, tidak tahan berbaik sangka kepada orang lain, tidak tahan untuk membatasi apa yang dia makan saat berbuka dan tidak tahan untuk tidak berhura-hura saat malam ‘Idul Fitri, padahal itu berpotensi menghapus seluruh pahala Ramadhan yang susah payah ia kumpulkan.

Memang nyata, kita belum seperti para shahabat Rasulullah SAW, mungkin anda atau saya bahkan merasa biasa-biasa saja dengan datangnya Ramadhan. Atau yang lebih celaka, justru khawatir dan takut menjalani Ramadhan. Na’udzubillah. Yang menyambut gembira Ramadhan adalah orang beriman, yang menyambut dengan ekspresi datar agak berat mungkin fasik, yang malah takut dan khawatir bisa jadi munafik atau bahkan kufur.

Baiklah, ternyata bagi yang merasa berat, Allah telah sebutkan bahwa kewajiban shaum itu “telah diwajibkan juga kepada orang-orang sebelum kalian,” kalau umat-umat terdahulu saja sudah diwajibkan shaum lalu kenapa kita harus merasa berat seolah-olah hanya kita saja yang diberikan ‘beban’. Maka bagi siapa saja yang merasa terbebani oleh kewajiban shaum, sungguh ia hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja tanpa mendapatkan saripati dari ibadahnya sedikitpun. Sia-sia!

Orang yang beriman dan bersabar tanpa terbebani akan dengan mudah mendapatkan saripati ibadah shaum Ramadhan sebagaimana target shaum itu sendiri yakni “supaya kalian menjadi orang-orang yang bertakwa,” kata Allah. Takwalah puncak prestasi keimanan tertinggi, yang Allah tegaskan bahwa insan paling mulia di sisi-Nya adalah insan yang bertakwa.

....Takwalah puncak prestasi keimanan tertinggi, yang Allah tegaskan bahwa insan paling mulia di sisi-Nya adalah insan yang bertakwa...

Takwa adalah konsistensi iman dan amal shaleh. Seorang shahabat bertanya kepada Rasulullah: “Nasihatilah aku yang tidak akan aku minta lagi kepada orang lain.” Rasul menjawab: “Katakanlah: aku beriman kepada Allah, lalu konsistenlah kamu dalam keimanan itu.” Iman plus konsistensi adalah takwa. Maka ciri orang yang sukses meraih predikat takwa dari ibadah Ramadhan adalah konsistensi ibadahnya di bulan-bulan lain sama seperti yang dilakukannya di bulan Ramadhan.

Shaum Ramadhan adalah start bukan final, adalah awal bukan akhir dari perjalanan ibadah sepanjang hayat kita. Maka tidak ada hari kemenangan bagi yang melaksanakan ibadah Ramadhan dengan biasa-biasa saja, yang asalkan tidak makan, minum dan bersenggama. Sementara hewan pun jika hanya sekedar itu mampu melakukannya.

Shaum Ramadhan adalah ibadah yang berfungsi sebagai charger untuk on-nya ibadah di sebelas bulan berikutnya. Adalah mengerikan, orang berduyun-duyun di akhir Ramadhan merayakan hari kemenangan, sementara mereka sudah tidak lagi berpuasa. Kembali ke kulit palsunya yang mereka tahu bahwa itu palsu. Memang benar, orang paling bodoh adalah orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu namun sok tahu seolah-olah dirinya tahu. Benarlah, hanya yang beriman dan bersabar (ihtisaban) dalam ibadah Ramadhan lah yang akan diampuni dosa masa lalunya.

Kemenangan sebenarnya dari Ramadhan ditentukan oleh sebelas bulan berikutnya. Tarawihnya di bulan Ramadhan berlanjutkah dalam tahajud di bulan berikutnya, tilawah Qur’annya di bulan Ramadhan berlanjutkah di bulan berikutnya, zakatnya di bulan Ramadhan berlanjutkah di bulan berikutnya, dermawan dan pemaafnya di bulan Ramadhan berlanjutkah atau kembali menjadi bakhil dan pemberang selepas bulan itu?

Jika hal-hal di atas tidak terwujud, jangan salahkan jika ibadah kita tidak membawa dampak positif. Allah sendiri mencela orang shalat sebagai pendusta agama, yang shalat dalam keadaan lalai. Saat seharusnya shalat membuahkan proteksi atas perbuatan keji dan mungkar, namun anda, saya dan kita masih menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin.

Bahkan Ramadhan kita kali ini, seharusnya tidak lagi menyantuni orang miskin yang sama, yang dulu kita serahkan zakat kita kepadanya. Tidak lagi, karena orang miskin itu tidak mau menerimanya, ia telah merasa mampu dari hasil pemberdayaan ekonomi melalui zakat kita di Ramadhan sebelumnya.

Mampukah Ramadhan kita kali ini membuahkan hasil, paling tidak membuat petugas pembagi zakat menangis tersedu-sedu karena mereka ditolak dari pintu ke pintu, sebagaimana petugas pembagi zakat di zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz. Semua menutup pintunya karena telah berdaya, harga dirinya terangkat untuk tidak terus menerus mengulurkan telapak tangan.

Sayangnya kita belum, bahkan kita secara tidak langsung melestarikan kemiskinan. Betapa tidak, kita berzakat ke orang yang sama selama bertahun-tahun. Membuat mereka haqqul yaqien bahwa zakat adalah rezeki pokoknya tanpa harus berpeluh-peluh.

Marilah kita maksimalkan seluruh kemampuan kita; mental, fisik, ilmu dan harta untuk ibadah di bulan Ramadhan yang mungkin kita tidak akan menjumpainya lagi di tahun depan.

Allahumma sallimnaa Ramadhan, wa sallim Ramadhana lanaa mutaqabbalan




Follow riodarmala on Twitter
free counters

Minggu, 31 Juli 2011

Penciptaan Atas Jibril



Allah SWT selesai menciptakan Jibrail
as dengan bentuk yang cantik, dan
Allah menciptakan pula baginya 600
sayap yang panjang , sayap itu antara
timur dan barat (ada pendapat lain
menyatakan 124, 000 sayap). Setelah itu
Jibrail as memandang dirinya sendiri
dan berkata:

"Wahai Tuhanku, adakah engkau
menciptakan makhluk yang lebih baik
daripada aku?."

Lalu Allah swt berfirman yang
bermaksud.. "Tidak"

Kemudian Jibrail as berdiri serta solat
dua rakaat kerana syukur kepada
Allah swt. dan tiap-tiap rakaat itu
lamanya 20,000 tahun.

Setelah selesai Jibrail as solat, maka
Allah SWT berfirman yang
bermaksud. "Wahai Jibrail, kamu telah
menyembah aku dengan ibadah yang
bersungguh-sungguh, dan tidak ada
seorang pun yang menyembah kepadaku
seperti ibadat kamu, akan tetapi di
akhir
zaman nanti akan datang seorang nabi
yang mulia yang paling aku cintai,
namanya Muhammad.' Dia mempunyai umat
yang lemah dan sentiasa berdosa,
sekiranya
mereka itu mengerjakan solat dua rakaat
yang hanya sebentar sahaja, dan
mereka dalam keadaan lupa serta serba
kurang, fikiran mereka melayang
bermacam-macam dan dosa mereka pun
besar juga. Maka demi kemuliaannKu
dan ketinggianKu, sesungguhnya solat
mereka itu aku lebih sukai dari solatmu
itu. Kerana mereka mengerjakan solat
atas perintahKu, sedangkan kamu
mengerjakan solat bukan atas
perintahKu."

Kemudian Jibrail as berkata: "Ya
Tuhanku, apakah yang Engkau hadiahkan
kepada mereka sebagai imbalan ibadat
mereka?"

Lalu Allah berfirman yang bermak!
sud. "Ya Jibrail, akan Aku berikan
syurga Ma'waa sebagai tempat tinggal..."

Kemudian Jibrail as meminta izin kepada
Allah untuk melihat syurga
Ma'waa. Setelah Jibrail as mendapat
izin dari Allah SWT maka pergilah
Jibrail
as dengan mengembangkan sayapnya dan
terbang, setiap dia mengembangkan dua
sayapnya dia boleh menempuh jarak
perjalanan 3000 tahun, terbanglah
malaikat
jibrail as selama 300 tahun sehingga ia
merasa letih dan lemah dan akhirnya
dia turun singgah berteduh di bawah
bayangan sebuah pohon dan dia sujud
kepada Allah SWT lalu ia berkata dalam
sujud:

"Ya Tuhanku apakah sudah aku menempuh
jarak perjalanan setengahnya, atau
sepertiganya, atau seperempatnya?"

Kemudian Allah swt berfirman yang
bermaksud. "Wahai Jibrail, kalau kamu
dapat terbang selama 3000 tahun dan
meskipun aku memberikan kekuatan
kepadamu seperti kekuatan yang engkau
miliki, lalu kamu terbang seperti
yang telah kamu lakukan, nescaya kamu
tidak akan sampai kepada sepersepuluh
dari beberapa perpuluhan yang telah
kuberikan kepada umat Muhammad terhadap
imbalan solat dua rakaat yang mereka
kerjakan.... ."

Marilah sama2 kita fikirkan dan
berusaha lakukan... Sesungguhnya Allah
S.W.T telah menyembunyikan enam perkara
iaitu :

* Allah S.W.T telah menyembunyikan
redha-Nya dalam taat.
* Allah S.W.T telah menyembunyikan
murka-Nya di dalam maksiat.
* Allah S.W.T telah menyembunyikan nama-
Nya yang Maha Agung di dalam Al-Quran.
* Allah S.W.T telah menyembunyikan
Lailatul Qadar di dalam bulan Ramadhan.
* Allah S.W.T telah menyembunyikan
solat yang paling utama di dalam solat
(yang lima waktu).
* Allah S.W.T telah menyembunyikan
(tarikh terjadinya) hari kiamat di dalam
semua hari.

Semoga kita mendapat berkat daripada
ilmu ini.

Wallahualam



Follow riodarmala on Twitter

free counters

Jadwal Puasa Ramadhan 2011 | Jadwal Imsakiyah 1432 H


Jadwal Puasa Ramadhan 2011 | Jadwal Imsakiyah 1432 H | Berita Terbaru
Jadwal Puasa Ramadhan 2011 | Jadwal Imsakiyah 1432 H, bulan puasa ramadhan 2011, bulan suci yang penuh berkah akan segera datang. Kami tim harian berita mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa (bagi yang menjalankannya), dan kami mohon maaf apabila ada kesahalahan dalam kata selama ini. Kami hanyalah manusia biasa yang tidak lepas dari kesalahan dan kesempurnaan hanya milik ALLAH SWT. Semoga amal ibadah dan puasa kita diterima oleh ALLAH SWT dan segala dosa yang kita lakukan mendapat ampunan dariNya, amin.


Follow riodarmala on Twitter
free counters

Minggu, 17 Juli 2011

Marhaban Ya Ramadhan



Marhaban Ya Ramadhan, Kami Menyambut Keagunganmu
Ramadhan, kehadiranmu kami tunggu, kami harapkan, dan kami butuhkan. Dan kini, kau sudah di ambang pintu kami. Ramadhan, walau masih berada di ambang pintu, tapi wibawamu begitu terasa, begitu menyentuh, sehingga mampu merajut pundi-pundi kekuatan dalam diri ini, untuk bangkit menyambutmu.

Ramadhan, bulan yang begitu kami tunggu-tunggu, bulan yang agung lagi penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan.

Ramadhan, kau bulan Al-Qur’an, bulan ampunan, bulan kasih sayang, bulan doa, bulan taubat, bulan kesabaran, dan bulan pembebasan dari api neraka.

Karena itu, sungguh kau penuh makna, sangat indah dan agung bagi orang-orang yang beriman. Kau mampu menggetarkan dada ini, menggetarkan jiwa ini, membuat jantung ini berdetak lebih kencang dan kencang, gelora rindu tiada terkira.

Ramadhan, kata yang mengingatkan kami pada 'mata' para muttaqin yang selalu basah mengiringi detik demi detik belaian kemuliaannya, air mata tulus, haru, dan penuh harap serta cemas. Ramadhan, kau juga mengingatkan kami pada lisan-lisan yang selalu basah karena zikir, tasbih, yang diucapkan tiada henti. Ramadhan, kau tak pernah jenuh kami ucapkan, tiada pernah kering kami diskusikan, dan kau tak pernah sirna diterjang ganasnya zaman. Sungguh, bisa bertemu denganmu adalah satu nikmat yang tiada terkira dari Allah SWT. Marhaban ya Ramadhan, Marhaban ya syahras-shiyam.

Kami Menyambutmu, ya Ramadhan

Ramadhan, kau adalah tamu istimewa kami. Sebagai tuan rumah, kami berkewajiban untuk menyambut dan melayanimu dengan penuh suka cita dan tulus. Bahkan, kau bukanlah sembarang tamu, sebab kau merupakan anugerah khusus dari Allah SWT yang luar biasa.

...Kita tanyakan pada diri kita: sudah berapa kali kami berpuasa Ramadhan? Apa hasil puasa selama itu?

Namun yang menjadi pertanyaan kami adalah jika hari ini kami ditanya, sudah berapa kali kami berpuasa Ramadhan? Jawabannya sudah berkali-kali. Pertanyaan ini mudah kami lontarkan. Tapi tatkala kami ditanya lebih jauh, apa hasil puasa selama itu? Sungguh, lidah kami tiba-tiba terasa kelu. Bukan karena benar-benar sulit bicara (menjawab), tapi lebih karena ketersentakan kami, bahwa kami memang belum mendapat 'banyak hal' dari kebersamaan denganmu.

Kau telah menawarkan begitu banyak hikmah dan fadhilah, tapi rasanya terlalu sedikit yang baru bisa kami gapai. Yang ada justru berupa rutinitas tahunan, tak lebih dari itu. Lalu, apa yang harus kami persiapkan untuk pertemuan kita kali ini? Kami akan mengkajinya.

Klasifikasi Al-Ghazali dan Totalitas Ibadah

Agar ibadah Ramadhan kita benar-benar maksimal, tentu butuh persiapan. Untuk tahu "apa" yang harus dipersiapkan, menarik kiranya menyimak pengelompokan Imam Al-Ghazali terhadap orang-orang yang berpuasa. Beliau menyampaikan itu dalam salah satu kitabnya Ihya' 'Ulumiddin pada bab "fi asrari as-shaum wa syuruthihi al-bathinah" (Juz: 1, p: 235-237).

Imam Al-Ghazali mengelompokkan kaum Muslimin yang berpuasa dalam tiga kategori. Pertama, puasanya orang-orang awam Shaumu al-'Umum). Kelompok ini berpuasa tidak lebih dari sekadar menahan lapar, haus, dan hubungan seksual di siang hari Ramadhan. Kedua, kelompok Shaumu al-Khusus, yakni mereka yang selain menahan lapar, haus dan hubungan suami istri di siang hari, juga menjaga lisan, mata, telinga, hidung, dan anggota tubuh lainnya dari segala perbuatan maksiat dan sia-sia.

Sementara kelompok ketiga adalah mereka yang berada dalam kategori khususul khusus atau al-Khawwas. Mereka tidak saja menjaga telinga, mata, lisan, tangan, dan kaki dari segala yang menjurus pada maksiat kepada Allah, akan tetapi mereka juga menjaga hatinya dari selain mengingat Allah. Mereka mengisi rongga hatinya hanya untuk mengingat Allah semata-mata. Mereka tidak menyisakan ruang sedikitpun dalam hatinya untuk urusan duniawi. Mereka benar-benar mengontrol hatinya dari segala detakan niat yang menjurus pada urusan duniawi.

Pertanyaannya, kira-kira kita termasuk kelompok yang mana? Silakan kita jawab masing-masing.

...Esensi dari puasa atau ibadah-ibadah lainnya bukan pada kuantitas (jumlahnya) saja, tapi yang lebih penting dari itu adalah pada kualitas ibadah kita....

Pelajaran mendasar yang bisa kita ambil dari pandangan Imam Al-Ghazali ini adalah, bahwa yang esensi (pokok) dari puasa atau ibadah-ibadah lainnya bukan pada kuantitas (jumlahnya) saja, tapi yang lebih penting dari itu adalah pada kualitas ibadah kita. Oleh sebab itu, dalam kaitannya dengan upaya memaksimalkan ibadah kita di bulan suci Ramadhan ini, mari kita secara sadar dan serius berusaha meningkatkan kualitas ibadah kita, baik itu ibadah puasa secara khusus maupun ibadah-ibadah kita yang lain.

Meningkatkan Kualitas Ibadah

Berbicara mengenai kualitas ibadah berarti berbicara mengenai ilmu beribadah. Sedangkan ilmu beribadah itu sendiri tidak lepas dari pembicaraan mengenai bagaimana Allah SWT mensyari'atkannya, dan bagaimana Rasul-Nya mencontohkan kepada umat Islam. Artinya, dapat ditegaskan bahwa dalam Islam, beribadah bukanlah perbuatan yang berasal dari rekaan (spekulasi) manusia semata. Tapi ia harus disandarkan pada kitabullah dan sunnah Rasul-Nya.

Oleh sebab itu, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin telah menyatakan: "Ilmu adalah cahaya yang menerangi kehidupan hamba sehingga dia tahu bagaimana beribadah kepada Allah dan bermuamalah dengan para hamba-Nya."

Dengan demikian, jika tidak berilmu, lantas, bagaimana mungkin kita bisa beribadah dengan baik? Bagaimana mungkin ibadah kita berkualitas? Artinya benar sesuai syara'. Bahkan kita bisa bertanya lebih jauh lagi, jika tidak bersandarkan pada Syari'at Islam, apakah yang dilakukan itu disebut sebagai ibadah? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang harus kita jawab dan buktikan bahwa kita tidak demikian (beribadah tanpa ilmu).

...Mari kita isi dengan terus mendalami dan mendiskusikan 'apa-apa' yang belum kita ketahui, atau yang kurang kita pahami, baik melalui kajian pada sumbernya secara langsung...

Tidak ada kata terlambat, di sisa waktu yang ada ini, mari kita isi dengan terus mendalami dan mendiskusikan 'apa-apa' yang belum kita ketahui, atau yang kurang kita pahami, baik melalui kajian pada sumbernya secara langsung, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah, maupun melalui pemahaman para Salafus-Shalih, yakni para sahabat radhiyallahu ‘anhum, serta para pengikut pola hidupnya hingga hari akhir. Agar kita benar-benar tahu, apa, mengapa, dan bagaimana seharusnya kita melewati bulan suci Ramadhan yang disyariatkan oleh Allah SWT.

Ramadhan, Momentum Pembiasaan Diri

Ramadhan, bulan yang begitu mulia itu, mari kita jadikan momentum untuk secara sadar, penuh rasa keterpanggilan, tanggung jawab, keseriusan bahkan sebagai sebuah kewajiban untuk menuntut ilmu. Bermula dari keinginan kuat untuk menjadikan Ramadhan kali ini bermakna, tidak sia-sia, maka mari terus kita pupuk keinginan tersebut, terus kita tingkatkan, hingga kita terbiasa dengan itu. Hal tersebut sangat penting, sebab tanpa ilmu, kaki kita akan lebih sering tergelincir daripada benarnya. Makanya dalam Islam, tidak ada kata selesai dalam menuntut ilmu, tidak karena alasan hidup yang dibuat-buat; baik karena alasan sudah terlalu tua, tidak lagi kuliah, sibuk bekerja, dan karena jenis-jenis sibuk yang lain.

Mari kita lihat sejarah, seperti yang dilakukan oleh Imam Ahmad, walaupun beliau telah hafal begitu banyak hadits, namun tidak pernah lepas dari pena dan tinta. Saat beliau ditanya oleh seseorang, "sampai kapankah Anda membawa tinta?" Beliau menjawab, "membawa tinta sampai ke kubur."

...bulan Ramadhan bisa kita jadikan momentum untuk kembali menanyakan, sudah seberapa jauh pengamalan ilmu yang kita miliki...

Selanjutnya, bulan Ramadhan juga bisa kita jadikan momentum untuk kembali melihat dan menanyakan, sudah seberapa jauh pengamalan ilmu yang kita miliki. Koreksi diri dan pertanyaan seperti itu penting dan mendesak, sebab kita wajib mengamalkan ilmu yang kita miliki. Allah swt berfirman yang artinya:

"Mengapa kamu menyuruh manusia (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri" (Qs Al-Baqarah 44).

Ayat ini sebagai peringatan kepada orang yang hanya pandai menyuruh orang lain untuk berbuat baik, tapi dirinya sendiri tidak mengerjakannya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Wahidi dan Ats-Tsa'labi dari Al-Kalbi, dari Abi shaleh yang bersumber dari Ibnu Abbas.

Dalam kaitan ilmu dan amal ini, Khalifah Umar bin Khatthab juga pernah berkata: "Sesungguhnya di antara yang saya khawatirkan terjadi pada umat ini adalah adanya seorang munafik yang 'alim." Orang-orang bertanya, "Bagaimana ada munafik tapi alim?" Beliau menjawab, "Yakni orang yang hanya pintar di lidah, namun bodoh dalam hati dan amalnya."

Seharusnya kita memperhatikan firman Allah SWT: "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya."

Mengingat begitu pentingnya peran amal dalam kehidupan manusia tersebut, sampai-sampai Syaikh Imam Al-Ghazali dalam kitabnya "Ayyuha al-Walad" menegaskan bahwa, kita mendapatkan Rahmat Allah swt bukan hanya karena kita telah punya banyak ilmu, bukan pula karena kita telah mengumpulkan sekian ribu kitab/buku, tapi ia datang setelah kita mengamalkan ilmu kita, setelah kita membuktikan keimanan kita.

Penutup

Kesadaran kita untuk menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu inilah yang sangat mempengaruhi kualitas dan kuantitas ibadah kita, khususnya di bulan Ramadhan ini. Yang terpenting, kita tidak boleh lelah untuk secara bertahap dan sungguh-sungguh mengamalkan ilmu kita. Sebab semua itu tidak bisa terjadi secara tiba-tiba. Perlu latihan dan totalitas.

...Kesadaran kita untuk menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu inilah yang sangat mempengaruhi kualitas dan kuantitas ibadah kita, khususnya di bulan Ramadhan ini...

Mudah-mudahan pada Ramadhan kali ini, kita bisa berada pada golongan kedua sebagaimana yang digambarkan oleh Imam Al-Ghazali di atas. Atau, tidak mustahil kita malah berada pada golongan yang paling tinggi, yaitu Khususul Khusus, sehingga Ramadhan benar-benar menjadi ajang revolusi jiwa kita menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Agar kita tidak mudah diombang-ambingkan oleh zaman, kondisi dan lika-liku kehidupan.
Wallahu a'lamu bi as-shawab.


Sumber;
*)Inet, *)Asmu'i, *) Penulis adalah Mahasiswa pada Program Pasca Sarjana di Universitas Darussalam Gontor Ponorogo.



Follow riodarmala on Twitter
free counters

Sabtu, 02 Juli 2011

SEPULUH SEBAB ALLAH SWT MENOLAK DOA KITA




SEPULUH SEBAB ALLAH SWT MENOLAK DOA KITA

1. ANDA MENGENAL ALLAH
sementara anda tidak penuhi hak-hak-Nya.

2. ANDA MEMBACA AL-QURAN
sementara anda tidak mengamalkan isinya.

3. ANDA MENYATAKAN CINTA PADA RASULULLAH
sementara anda tidak menjalankan sunnahnya.

4. ANDA MENYATAKAN DIRI SEBAGAI MUSUH SYETAN
sementara anda mengikuti jalannya.

5. ANDA SELALU BERDOA AGAR TERLEPAS DARI AZAB NERAKA
sementara anda selalu menceburkan diri dalam dosa.

6. ANDA SELALU BERDOA UNTUK MASUK SORGA
sementara anda tidak beramal.

7. ANDA YAKIN KEMATIAN ITU PASTI DATANG
sementara anda tidak menyiapkan diri dengan baik.

8. ANDA SIBUK MENGURUS AIB ORANG LAIN
sementara anda lupa dengan aib sendiri.

9. ANDA MANFAATKAN SELURUH NIKMAT ALLAH
sementara anda tidak mensyukuri nikmat tersebut.

10. ANDA PERGI MENGGUBURKAN ORANG YANG MENINGGAL DUNIA
sementara anda tidak mengambil pelajaran dari peristiwa itu.

Allahualam Bisowab...




Follow riodarmala on Twitter
free counters

Selasa, 21 Juni 2011

Tanda Seseorang Melakukan Riya




Tanda Seseorang Melakukan Riya
Oleh: Badrul Tamam
( Senin, 20 Jun 2011 ).

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.

Riya’ merupakan syirik khafi (samar), yakni syirik yang bersifat rahasia,- semoga Allah melindungi kita darinya -. Sedangkan seseorang lebih tahu terhadap dirinya sendiri dibandingkan orang lain dalam masalah ini.

بَلِ الْإِنسَانُ عَلَى نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ

“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri.” (QS. Al-Qiyamah: 14)

Maka siapa yang mengintrospeksi dirinya dan merasa diawasi oleh Rabb-Nya dalam keadaan sepi atau ramai, akan selamat dari penyakit yang berbahaya ini. Dan di antara tanda riya yang paling jelas adalah pelakunya sengaja menampakkan amal-amak shalihanya di tengah-tengah manusia dan sengaja membicarakan kebaikan serta ketaatannya untuk mendapatkan pujian dan sanjungan mereka.

Meninggalkan Amal Karena Takut Riya’

Seorang hamba tidak boleh meninggalkan amal hanya karena takut riya’. Itu termasuk jerat-jerat tipu daya setan. Karena setan, pada satu kondisi berusaha menjerumuskan seorang hamba ke dalam riya untuk merusak amalnya. Atau pada kondisi yang lain menipunya dengan meninggalkan amal karena takut riya’ supaya tidak melakukan amal shalih. Padahal dia diperintahkan untuk beramal dan bersungguh-sungguh menjalankan ketaatan dengan berharap ridha Allah dan meninggalkan godaan setan dan tipu dayanya. Maka siapa yang sudah berazam menjalankan satu ibadah lalu meninggalkannya karena takut riya’, sebenarnya dia telah berbuat riya’. Karena dia meninggakan amal karena manusia. Tetapi jika meninggalkannya untuk dikerjakan saat sendirian, maka ini dianjurkan kecuali pada amal-amal wajib.

Meninggalkan amal karena takut riya’ sebenarnya adalah riya’, karena dia meninggakan amal karena manusia.

Terapi Riya’

Terapi untuk menyembuhkan riya’ banyak macamnya. Yang paling utama adalah tekad tulus untuk berhenti dari riya’ dan meninggalkannya. Selanjutnya banyak mengingat hari akhir dan ancaman pedih bagi orang yang berbuat riya’. Seorang hamba harus meyakini bahwa kebaikan dan keburukan ada di tangan Allah Ta’ala. Sementara yang sempurna memujinya dan menghinakannya adalah Allah Ta’ala yang tiada sekutu bagi-Nya. Karena itu hendaknya ia mengintrospeksi dirinya, menghitung aib, kesalahan, dan kekurangannya. Juga memperbanyak ibadah siri (yang bersifat rahasia) seperti shalat malam, bershadaqah dengan sembunyi-sembunyi, dan menangis sendirian karena takut kepada Allah.

Orang yang ingin selamat dari riya’ juga harus meminta tolong kepada Allah Ta’ala untuk merealisasikan keikhlasan dan berdoa dengan doa yang diajarkan oleh Nabi shallallau 'alaihi wa sallam, yaitu:

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك أَنْ أُشْرِكَ بِك وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُك لِمَا لَا أَعْلَمُ

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik (menyekutukan-Mu) sedangkan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap kesyirikan yang tidak aku ketahui." (HR. Ahmad dan Shahih Abi Hatim serta yang lainnya, shahih). Wallahu Ta’ala a’lam.

Orang yang ingin selamat dari riya’ juga harus meminta tolong kepada Allah Ta’ala untuk merealisasikan keikhlasan dan berdoa dengan doa yang diajarkan oleh Nabi shallallau 'alaihi wa sallam

Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad berserta keluarga dan para sahabatnya. [PurWD/voa-islam.com]


Follow riodarmala on Twitter
free counters
SMS: 08568382255 eMail: rio_metacom@yahoo.co.id

Jumat, 03 Juni 2011

Taat Kepada Suami



Pernikahan adalah salah satu nikmat
Allah yang diberikan kepada laki-laki
dan perempuan dengan kadar yang sama dan
berimbang, ia adalah wujud kecintaan,
kasih sayang, mementingkan pasangan,
saling memberi dan menerima, hal itu
terbaca jelas dalam firman Allah,

*"Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya
ialah dia menciptakan untukmu
istri-istri dari jenismu sendiri, supaya
kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu
rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada
yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang berfikir."
*(Ar-Rum: 21).

Demi menjaga kelanggengan kasih sayang
dan hubungan baik antara suami istri
maka Allah meletakkan hak bagi
masing-masing atas pasangannya. Firman
Allah,

"Dan para wanita mempunyai hak yang
seimbang dengan kewajibannya menurut
cara yang ma'ruf. Akan tetapi para
suami, mempunyai satu tingkatan
kelebihan daripada istrinya."
(Al-Baqarah: 228).

Istri mempunyai hak-hak atas suami yang
tidak sedikit yang wajib diberikan oleh
suami kepadanya, jika suami tidak
menunaikannya maka hal itu dianggap
sebagai dosa dan kemaksiyatan yang tidak
ringan di sisi Allah. Sebaliknya suami
memiliki hak-hak atas istri sebanding
dengan hak istri atas suami, di antara
hak-hak suami adalah hendaknya seorang
wanita muslimah menjadi istri yang patuh
dan taat kepada suaminya dengan
menunaikan hak-haknya sebaik-baiknya.

*Besarnya hak suami atas istri*

Hak suami atas istri adalah besar,
kedudukannya di hadapannya adalah agung,
hal itu tergambar dengan jelas melalui:

A. Perintah Rasulullah saw kepada istri
agar bersujud kepada suami seandainya
makhluk boleh bersujud kepada makhluk.

Dari Abu Hurairah dari Nabi saw
bersabda, *"Seandainya aku memerintahkan
seseorang bersujud kepada orang lain
niscaya aku memerintahkan istri agar
bersujud kepada suaminya." HR
at-Tirmidzi, dia berkata, "Hadits
hasan." Al-Arnauth berkata, "Sanadnya
hasan."

B. Murka yang di langit kepada istri
yang menolak permintaan suami untuk
bermesraan, murka ini redah jika suami
ridha kepada istri.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw
bersabda, "Demi dzat yang jiwaku berada
ditanganNya, tidak ada seorang suami
mengajak istri ke ranjangnya lalu
istrinya menolaknya kecuali yang di
langit memurkainya sehingga suami ridha
kepadanya."

C. Penunaian ibadah-ibadah sunnah oleh
istri bergantung kepada izin dan lampu
hijau suami jika ibadah-ibadah tersebut
menghalangi hak suami.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw
bersabda, "Tidak halal bagi wanita
berpuasa sementara suaminya hadir
kecuali dengan izinnya. Dan hendaknya
dia tidak mengizinkan di rumahnya
kecuali dengan izinnya."

Khusus dalam hal ini terdapat teladan
dari Aisyah istri Rasulullah saw, Aisyah
berkata, "Aku pernah berhutang puasa
Ramadhan, aku baru bisa melunasinya di
bulan Sya'ban hal itu karena kedudukan
Rasulullah saw." (HR.

Jamaah).

D. Menghadirkan seseorang di rumah suami
bergantung kepada restu suami.

Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah di
atas,
"Dan hendaknya dia tidak mengizinkan di
rumahnya kecuali dengan izinnya."

Juga berdasarkan hadits Amru bin
al-Ahwas as-Sahmi bahwa dia mendengar
sabda Nabi saw pada haji wada'.
"Hendaknya mereka tidak mengizinkan di
rumahmu bagi orang yang tidak kamu
sukai." (HR. at-Tirmidzi, dia berkata,
"Hadits hasan shahih.")

E.Izin khulu' –menuntut berpisah dari
istri dengan membayar iwadh (ganti
rugi)- dalam kondisi istri takut tidak
mampu menunaikan hak-hak suami seperti
yang dilakukan oleh istri Tsabit bin Qais.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas
berkata, istri Tsabit bin Qais datang
kepada Rasulullah, dia berkata, "Ya
Rasulullah, aku tidak membenci agama dan
akhlak Tsabit, hanya saja aku takut
kufur dalam Islam." Rasulullah bertanya,
"Apakah kamu mau mengembalikan kebunnya
kepadanya?" Dia menjawab, "Ya." Maka
Nabi saw meminta Tsabit berpisah
darinya. Apa yang dilakukan istri Tsabit
ini merupakan tindak lanjut dari firman
Allah,

"Tidak halal bagi kamu mengambil kembali
sesuatu dari yang telah kamu berikan
kepada mereka, kecuali kalau keduanya
khawatir tidak akan dapat menjalankan
hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir
bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat
menjalankan hukum-hukum Allah, maka
tidak ada dosa atas keduanya tentang
bayaran yang diberikan oleh istri untuk
menebus dirinya." *(Al-Baqarah: 229).

F. Ihdad (berkabung) hanya boleh tiga
hari tetapi untuk suami –maksudnya jika
suami yang meninggal- maka masa ihdad
lebih panjang yaitu empat bulan sepuluh
hari. Rasulullah saw bersabda,

"Tidak halal bagi seorang wanita yang
beriman kepada Allah dan Hari Akhir
berihdad atas mayit lebih dari tiga
malam kecuali atas suami yaitu empat
bulan sepuluh hari." (Muttafaq alaihi
dari Ummu Habibah dan Zaenab binti Jahsy).

G. Tatanan iddah (masa tunggu) bagi
istri yang berpisah dari suami, di mana
dalam masa ini istri belum boleh
menerima lamaran dari orang lain karena
hak suami dan suami tetap dinamakan
suami yang memegang hak rujuk jika
berpisahnya masih memungkinkan untuk
rujuk. firman Allah,

"Wanita-wanita yang ditalak handaklah
menahan diri (menunggu) tiga kali quru'.
Tidak boleh mereka menyembunyikan apa
yang diciptakan Allah dalam rahimnya,
jika mereka beriman kepada Allah dan
Hari Akhirat. Dan suami-suaminya berhak
merujukinya dalam masa menanti itu, jika
mereka (para suami) menghendaki ishlah."
(Al-Baqarah: 228).

*Keutamaan taat kepada suami*

Suami muslim sebagai penanggungjawab
rumah tangga mendambakan kehidupan rumah
tangga yang tenteram, diliputi dengan
cinta dan kasih sayang demi mewujudkan
kebahagiaan bagi seluruh anggota rumah
tangga dan salah satu faktor penting
dalam mewujudkan hal tersebut adalah
kepatuhan dan ketaatan seorang istri
muslimah kepada suaminya setelah
ketaatannya kepada Allah dan RasulNya.

Bisa dibayangkan bagaimana keadaan rumah
tangga seandainya istri tidak taat dan
patuh kepada suami, kebahagiaan yang
diimpikan akan lenyap, kegembiraan yang
didambakan akan terkubur dan kasih
sayang yang diharapkan tumbuh subur akan
layu untuk selanjutnya mati tergantikan
oleh percekcokan, perselisihan dan
pertengkaran. Hal ini dipicu oleh –salah
satunya- keengganan dan penolakan istri
untuk taat kepada suaminya.

Keutuhan rumah tangga sangat
diperhatikan oleh Islam karena
bagaimanapun rumah tangga yang utuh jauh
lebih baik dari pada rumah tangga yang
bubar di tengah jalan, dari sini kita
memahami ketika talak diizinkan, ia
diizinkan dalam kondisi dharurat dan itu
pun demi kebaikan dan kemaslahatan suami
dan istri. Demi menjaga keutuhan rumah
tangga ini Islam meletakkan
batasan-batasan hak dan kewajiban bagi
dan atas suami istri, misalnya dari sisi
istri, dia memiliki kewajiban taat dan
patuh kepada suaminya.

Jangan salah paham ketika istri
diharuskan taat kepada suami setelah
ketaatannya kepada Allah dan RasulNya,
ini tidak serta merta berarti derajat
istri lebih rendah atau ini merupakan
perendahan kepada wanita, tidak demikian
karena pada prinsipnya hak dan kewajiban
dalam rumah tangga adalah setara dan
sebanding sebagaimana telah penulis
singgung dalam makalah sebelumnya, akan
tetapi ini hanyalah pengaturan dan
penempatan masing-masing dari suami dan
istri pada pos yang memang sesuai dan
sejalan dengan tabiat dan fitrah
masing-masing, tidak mungkin dalam satu
kapal ada dua nahkoda dan tentu yang
paling pantas menjadi nahkoda adalah
orang yang memiliki kriteria dalam kadar
lebih untuk itu, dan ini ada pada diri
suami.

Di samping itu ketaatan dan kepatuhan
istri tidak berbuah cuma-cuma, ada
imbalan besar lagi utama yang disediakan
atasnya sebagai pendorong, akan tetapi
buah dan imbalan besar ini hanya bisa
dipetik oleh istri-istri yang beriman
dengan baik kepada Allah yang dengannya
dia lebih mementingkan apa yang ada di
sisiNya daripada selainnya.

*Ketaatan kepada suami adalah salah satu
kunci masuk surga*.

Setiap muslim baik laki-laki maupun
perempuan tidak terkecuali istri tentu
berharap bisa meraih surga, kebahagiaan
abadi yang tidak akan pernah terputus
untuk selama-lamanya, oleh karena itu
dia akan berusaha menelusuri setiap
jalan yang bisa menyampaikannya
kepadanya dan jalan ke sana memang
banyak, salah satunya secara khusus
untuk istri yaitu ketaatannya kepada
suaminya.

Nabi saw bersabda,
"Apabila seorang wanita menjaga shalat
lima waktu, berpuasa pada bulannya,
menjaga kehormatannya dan mentaati
suaminya niscaya dia akan masuk surga
dari pintu mana saja yang dia inginkan."
(HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

Adakah balasan yang lebih besar dan
utama dari ini? Masuk surga, tidak
sebatas itu akan tetapi lebih dari itu,
dari pintu mana saja yang dia kehendaki.
Belum cukuplah hal ini menggugah dan
mendorongmu untuk taat dan patuh kepada
suamimu?

Imam Ahmad dan al-Hakim meriwayatkan
dari al-Husain bin Mihshan bahwa bibinya
datang kepada Nabi saw untuk suatu
keperluan, setelah dia selesai dari
keperluannya, Nabi saw bertanya kepada
bibi al-Husain, "Apakah kamu bersuami?"
Dia menjawab, "Ya." Rasulullah bertanya,
"Bagaimana dirimu terhadapnya?" Dia
menjawab, "Saya tidak melalaikannya
kecuali jika saya tidak mampu." Maka
Rasulullah saw bersabda,

"Lihatlah dirimu daripadanya, karena dia
adalah surga dan nerakamu."

Kadar kataatan istri kepada suaminya
adalah salah satu tolok ukur
keberhasilannya dalam berumah tangga,
sejauh mana dia taat kepada suaminya
sejauh itu pulalah nilai yang kedudukan
wanita muslimah di sisi suaminya dan
tentu ia menambah kecintaan suami
kepadanya. Bukankah ini yang kamu
dambakan wahai istri muslimah?

*Ketaatan kepada suami menandingi
ibadah-ibadah besar*.

Dalam kitab *Usudul Ghabah* milik Ibnul
Atsir dari Asma' binti Yazid binti
as-Sakan al-Asyhaliyah bahwa dia
mendatangi Rasulullah SAW, sementara
beliau sedang duduk di antara para
sahabatnya. Asma' berkata, "Aku
korbankan bapak dan ibuku demi dirimu ya
Rasulullah. Saya adalah utusan para
wanita di belakangku kepadamu.
Sesungguhnya Allah mengutusmu kepada
seluruh laki-laki dan wanita, maka
mereka beriman kepadamu dan kepada
Tuhanmu. Kami para wanita selalu dalam
keterbatasan, sebagai penjaga rumah,
tempat menyalurkan hasrat dan mengandung
anak-anak kalian, sementara kalian –
kaum laki-laki – mengungguli kami dengan
shalat Jum'at, shalat berjamaah,
menjenguk orang sakit, mengantar
jenazah, berhaji setelah sebelumnya
sudah berhaji dan yang lebih utama dari
adalah jihad fi sabilillah. Jika salah
seorang dari kalian pergi haji atau
umrah atau jihad maka kamilah yang
menjaga harta kalian, yang menenun
pakaian kalian, yang mendidik anak-anak
kalian. Bisakah kami menikmati pahala
dan kebaikan ini sama seperti kalian?"

Nabi SAW memandang para sahabat dengan
seluruh wajahnya. Kemudian beliau
bersabda, "Apakah kalian pernah
mendengar ucapan seorang wanita yang
lebih baik pertanyaannya tentang urusan
agamanya daripada wanita ini?" mereka
menjawab, "Ya Rasulullah, kami tidak
pernah menyangka ada wanita yang bisa
bertanya seperti dia."

Nabi SAW menengok kepadanya dan
bersabda, "Pahamilah wahai ibu. Dan
beritahu para wanita di belakangmu bahwa
ketaatan istri kepada suaminya, usahanya
untuk memperoleh ridhonya dan
kepatuhannya terhadap keinginannya
menyamai semua itu." Wanita itu berlalu
dengan wajah berseri-seri.

Lihatlah wahai para muslimah, Nabi saw
mensejajarkan ketaatan istri kepada
suaminya, usahanya untuk mendapatkan
keridhaannya dan kepatuhannya terhadap
keinginannya dengan amalan-amalan besar
seperti shalat jumat, shalat berjamaah,
haji, umrah bahkan jihad di jalan Allah
Taala. Saya berharap Anda puas dengan
ini karena jika tidak maka dengan apa
Anda bisa puas?

*Ketaatan kepada suami adalah salah satu
tanda keshalihan istri*

Menjadi muslimah yang shalihah adalah
keinginan setiap istri dan suamipun
mendambakan yang sama, untuk mewujudkan
keinginan ini mudah saja yaitu dengan
–salah satunya- mentaati suami, firman
Allah, "Maka wanita yang shalih ialah
yang taat kepada Allah lagi memelihara
diri ketika suaminya tidak ada, oleh
karena Allah telah memelihara (mereka)."
(An-Nisa': 34).

Ayat ini menetapkan bahwa ketaatan
kepada Allah merupakan ciri dari wanita
shalihah, dan ketaatan kepada suami
adalah bagian dari ketaatan kepada Allah
karena ia merupakan perintah Allah Taala.

Nabi saw bersabda,

"Sebaik-baik wanita adalah wanita yang
jika kamu melihat kepadanya maka kamu
berbahgia, jika kamu memerintahkannya
maka dia mentaatimu, jika kamu bersumpah
atasnya maka dia memenuhinya dan jika
kamu meninggalkannya maka dia menjagamu
pada diri dan hartamu." (HR. an-Nasa`i)

*Terakhir apa batasan ketaatan istri
kepada suami?*

Batasannya adalah perkara-perkara yang
bukan merupakan kemaksiyatan kepada
Allah dan RasulNya, ini adalah batasan
kataatan kepada makhluk di mana Allah
Taala memerintahkan mentaatinya dan
salah satunya adalah suami. Tidak ada
ketaatan kapada makhluk dalam
bermaksiyat kepada Khalik.

Nabi saw bersabda,
"Tidak ada ketaatan dalam bermaksiyat
kepada Allah, ketaatan itu hanya dalam
kebaikan." (HR. Muslim)

Nabi saw bersabda,
"…Kecuali jika dia diperintahkan kepada
kemaksiyatan, jika dia diperintahkan
kepada kemaksiyatan maka tidak ada kata
mendengar dan mentaati."
(HR. Muslim)





Follow riodarmala on Twitter

free counters

SMS: 08568382255 eMail: rio_metacom@yahoo.co.id

Selasa, 31 Mei 2011

60 PINTU PAHALA DAN PELEBUR DOSA

Segala puji bagi Allah Rabb alam semesta, shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi dan utusan yang paling mulia.Risalah ini ditujukan kepada setiap muslim yang beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.
Tujuan utama yang sangat urgen bagi setiap muslim adalah ia keluar meninggalkan dunia fana ini dengan ampunan Allah dari segala dosa sehingga Allah tidak menghisabnya pada hari Kiamat, dan memasukkannya ke dalam surga kenikmatan, hidup kekal didalamnya, tidak keluar selama-lamanya.
Di dalam risalah yang sederhana ini kami sampaikan beberapa amalan yang dapat melebur dosa dan membawa pahala yang besar, yang kesemuanya bersumber dari hadist-hadist yang shahih. Kita bermohon kepada Allah yang Maha Hidup, yang tiada Tuhan yang haq selain Dia, untuk menerima segala amalan kita. Sesungguhnya Ia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
1. TAUBAT
“Barangsiapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat, niscaya Allah akan mengampuninya
” HR. Muslim, No. 2703.
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menerima tobat seorang hamba selama ruh belum sampai ketenggorokan”.
2. KELUAR UNTUK MENUNTUT ILMU
“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah memudahkan baginya dengan (ilmu) itu jalan menuju surga
” HR. Muslim, No. 2699.
3. SENANTIASA MENGINGAT ALLAH
“Inginkah kalian aku tunjukkan kepada amalan-amalan yang terbaik, tersuci disisi Allah, tertinggi dalam tingkatan derajat, lebih utama daripada mendermakan emas dan perak, dan lebih baik daripada menghadapi musuh lalu kalian tebas batang lehernya, dan merekapun menebas batang leher kalian. Mereka berkata: “Tentu”, lalu beliau bersabda: (( Zikir kepada Allah Ta`ala ))
” HR. At Turmidzi, No. 3347.
4. BERBUAT YANG MA`RUF DAN MENUNJUKKAN JALAN KEBAIKAN
“Setiap yang ma`ruf adalah shadaqah, dan orang yang menunjukkan jalan kepada kebaikan (akan mendapat pahala) seperti pelakunya
” HR. Bukhari, Juz. X/ No. 374 dan Muslim, No. 1005.
5. BERDA`WAH KEPADA ALLAH
“Barangsiapa yang mengajak (seseorang) kepada petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun
” HR. Muslim, No. 2674.
6. MENGAJAK YANG MA`RUF DAN MENCEGAH YANG MUNGKAR.
“Barangsiapa diantara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, jika ia tidak mampu (pula) maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman
” HR. Muslim, No. 804.
7. MEMBACA AL QUR`AN
“Bacalah Al Qur`an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat untuk memberikan syafa`at kepada pembacanya
” HR. Muslim, No. 49.
8. MEMPELAJARI AL QUR`AN DAN MENGAJARKANNYA
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur`an dan mengajarkannya
” HR. Bukhari, Juz. IX/No. 66.
9. MENYEBARKAN SALAM
“Kalian tidak akan masuk surga sehingga beriman, dan tidaklah kalian beriman (sempurna) sehingga berkasih sayang. Maukah aku tunjukan suatu amalan yang jika kalian lakukan akan menumbuhkan kasih sayang di antara kalian? (yaitu) sebarkanlah salam
” HR. Muslim, No.54.
10. MENCINTAI KARENA ALLAH
“Sesungguhnya Allah Ta`ala berfirman pada hari kiamat: ((Di manakah orang-orang yang mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini Aku akan menaunginya dalam naungan-Ku, pada hari yang tiada naungan selain naungan-Ku))
” HR. Muslim, No. 2566.
11. MEMBESUK ORANG SAKIT
“Tiada seorang muslim pun membesuk orang muslim yang sedang sakit pada pagi hari kecuali ada 70.000 malaikat bershalawat kepadanya hingga sore hari, dan apabila ia menjenguk pada sore harinya mereka akan shalawat kepadanya hingga pagi hari, dan akan diberikan kepadanya sebuah taman di surga
” HR. Tirmidzi, No. 969.
12. MEMBANTU MELUNASI HUTANG
“Barangsiapa meringankan beban orang yang dalam kesulitan maka Allah akan meringankan bebannya di dunia dan di akhirat
” HR. Muslim, No.2699.
13. MENUTUP AIB ORANG LAIN
“Tidaklah seorang hamba menutup aib hamba yang lain di dunia kecuali Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat
” HR. Muslim, No. 2590.
14. MENYAMBUNG TALI SILATURAHMI
“Silaturahmi itu tergantung di `Arsy (Singgasana Allah) seraya berkata: “Barangsiapa yang menyambungku maka Allah akan menyambung hubungan dengannya, dan barangsiapa yang memutuskanku maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya
“HR. Bukhari, Juz. X/No. 423 dan HR. Muslim, No. 2555.
15. BERAKHLAK YANG BAIK
“Rasulullah SAW ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, maka beliau menjawab: “Bertakwa kepada Allah dan berbudi pekerti yang baik
” HR. Tirmidzi, No. 2003.
16. JUJUR
“Hendaklah kalian berlaku jujur karena kejujuran itu menunjukan kepada kebaikan, dan kebaikan menunjukan jalan menuju surga
“HR. Bukhari Juz. X/No. 423 dan HR. Muslim., No. 2607.
17. MENAHAN MARAH
“Barangsiapa menahan marah padahal ia mampu menampakkannya maka kelak pada hari kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk dan menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai” HR. Tirmidzi, No. 2022.
18. MEMBACA DO`A PENUTUP MAJLIS
“Barangsiapa yang duduk dalam suatu majlis dan banyak terjadi di dalamnya kegaduhan lalu sebelum berdiri dari duduknya ia membaca do`a:(Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa Tidak ada Ilah (Tuhan) yang berhak disembah kecuali Engkau, aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu) melainkan ia akan diampuni dari dosa-dosanya selama ia berada di majlis tersebut
” HR. Tirmidzi, Juz III/No. 153.
19. SABAR
“Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim baik berupa malapetaka, kegundahan, rasa letih, kesedihan, rasa sakit, kesusahan sampai-sampai duri yang menusuknya kecuali Allah akan melebur dengannya kesalahan-kesalahannya
” HR. Bukhari, Juz. X/No. 91.
20. BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA
“Sangat celaka, sangat celaka, sangat celaka…! Kemudian ditanyakan: Siapa ya Rasulullah?, beliau bersabda: ((Barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya di masa lanjut usia kemudian ia tidak bisa masuk surga))
” HR. Muslim, No. 2551.
21. BERUSAHA MEMBANTU PARA JANDA DAN MISKIN
“Orang yang berusaha membantu para janda dan fakir miskin sama halnya dengan orang yang berjihad di jalan Allah” dan saya (perawi-pent) mengira beliau berkata: ((Dan seperti orang melakukan qiyamullail yang tidak pernah jenuh, dan seperti orang berpuasa yang tidak pernah berbuka
” HR. Bukhari, Juz. X/No. 366.
22. MENANGGUNG BEBAN HIDUP ANAK YATIM
“Saya dan penanggung beban hidup anak yatim itu di surga seperti begini,” seraya beliau menunjukan kedua jarinya: jari telunjuk dan jari tengah.
HR. Bukhari, Juz. X/No. 365.
23. WUDHU`
“Barangsiapa yang berwudhu`, kemudian ia memperbagus wudhu`nya maka keluarlah dosa-dosanya dari jasadnya, hingga keluar dari ujung kukunya
” HR. Muslim, No. 245.
24. BERSYAHADAT SETELAH BERWUDHU
`((Barangsiapa berwudhu` lalu memperbagus wudhu`nya kemudian ia mengucapkan: أشْهَدُ أنْ لاَّ إلهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ ورَسُوْلُُُهُ،اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ(Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq selain Allah tiada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bahwa Muhammad hamba dan utusan-Nya,Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci,” maka dibukakan baginya pintu-pintu surga dan ia dapat memasukinya dari pintu mana saja yang ia kehendaki
“HR. Muslim, No. 234.
25. MENGUCAPKAN DO`A SETELAH AZAN
“Barangsiapa mengucapkan do`a ketika ia mendengar seruan azan:اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ والصَّلاَةِ القَائِمَةِ, آتِ مُحَمَّداً الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَاماً مَّحْمُوْداً الَّذِيْ وَعَدتَّهُ((Ya Allah pemilik panggilan yang sempurna dan shalat yang ditegakkan, berilah Muhammad wasilah (derajat paling tinggi di surga) dan kelebihan, dan bangkitkanlah ia dalam kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya)) maka ia berhak mendapatkan syafa`atku pada hari kiamat
“HR. Bukhari, Juz. II/No. 77.
26. MEMBANGUN MASJID
“Barangsiapa membangun masjid karena mengharapkan keridhaan Allah maka dibangunkan baginya yang serupa di surga
” HR. Bukhari, No. 450.
27. BERSIWAK
“Seandainya saya tidak mempersulit umatku niscaya saya perintahkan mereka untuk bersiwak pada setiap shalat
” HR. Bukhari II/No. 331 dan HR. Muslim, No. 252.
28. BERANGKAT KE MASJID
“Barangsiapa berangkat ke masjid pada waktu pagi atau sore, niscaya Allah mempersiapkan baginya tempat persinggahan di surga setiap kali ia berangkat pada waktu pagi atau sore
” HR. Bukhari, Juz. II/No. 124 dan HR. Muslim, No. 669.
29. SHALAT LIMA WAKTU
“Tiada seorang muslim kedatangan waktu shalat fardhu kemudian ia memperbagus wudhu`nya, kekhusyu`annya dan ruku`nya kecuali hal itu menjadi pelebur dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya selama ia tidak dilanggar suatu dosa besar. Dan yang demikian itu berlaku sepanjang masa
” HR. Muslim, No. 228.
30. SHALAT SUBUH DAN ASHAR
“Barangsiapa shalat pada dua waktu pagi dan sore (subuh dan ashar) maka ia masuk surga
” HR. Bukhari, Juz. II/No. 43.




31. SHALAT JUM`AT
“Barangsiapa berwudhu` lalu memperindahnya, kemudian ia menghadiri shalat Jum`at, mendengar dan menyimak (khutbah) maka diampuni dosanya yang terjadi antara Jum`at pada hari itu dengan Jum`at yang lain dan ditambah lagi tiga hari
” HR. Muslim, 857.
32. SAAT DIKABULKANNYA PERMOHONAN PADA HARI JUM`AT
“Pada hari ini terdapat suatu saat bilamana seorang hamba muslim bertepatan dengannya sedangkan ia berdiri shalat seraya bermohon kepada Allah sesuatu, tiada lain ia akan dikabulkan permohonannya
“HR. Bukhari, Juz. II/No. 344 dan HR. Muslim, No. 852.
33. MENGIRINGI SHALAT FARDHU DENGAN SHALAT SUNNAT RAWATIB
“Tiada seorang hamba muslim shalat karena Allah setiap hari 12 rakaat sebagai shalat sunnat selain shalat fardhu, kecuali Allah membangunkan baginya rumah di surga
” HR. Muslim, No. 728.
34. SHALAT 2 (DUA) RAKAAT SETELAH MELAKUKAN DOSA
“Tiada seorang hamba yang melakukan dosa, lalu ia berwudhu` dengan sempurna kemudian berdiri melakukan shalat 2 rakaat, lalu memohon ampunan Allah, melainkan Allah mengampuninya
” HR. Abu Daud, No.1521.
35. SHALAT MALAM
“Shalat yang paling afdhal setelah shalat fardhu adalah shalat malam”
HR. Muslim, No. 1163.
36. SHALAT DHUHA
“Setiap persendian dari salah seorang di antara kalian pada setiap paginya memiliki kewajiban sedekah, sedangkan setiap tasbih itu sedekah, setiap tahmid itu sedekah, setiap tahlil itu sedekah, setiap takbir itu sedekah, memerintahkan kepada yang makruf itu sedekah dan mencegah dari yang mungkar itu sedekah, tetapi semuanya itu dapat terpenuhi dengan melakukan shalat 2 rakaat dhuha” HR. Muslim, No. 720.
37. SHALAWAT KEPADA NABI SAW
“Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali maka Allah membalas shalawatnya itu sebanyak 10 kali
” HR. Muslim, No. 384.
38. PUASA
“Tiada seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah melainkan Allah menjauhkannya karena puasa itu dari neraka selama 70 tahun
” HR. Bukhari, Juz. VI/No. 35.
39. PUASA 3 (TIGA) HARI PADA SETIAP BULAN
“Puasa 3 (tiga) hari pada setiap bulan merupakan puasa sepanjang masa
” HR. Bukhari, Juz. IV/No. 192 dan HR. Muslim, No. 1159.
40. PUASA 60 (ENAM) HARI PADA BULAN SYAWAL
“Barangsiapa melakukan puasa Ramadhan, lalu ia mengiringinya dengan puasa 6 hari pada bulan Syawal maka hal itu seperti puasa sepanjang masa
” HR. Muslim, 1164.
41. PUASA `ARAFAT
“Puasa pada hari `Arafat (9 Dzulhijjah) dapat melebur (dosa-dosa) tahun yang lalu dan yang akan datang
” HR. Muslim, No. 1162.
42. PUASA `ASYURA
“Dan dengan puasa hari `Asyura (10 Muharram) saya berharap kepada Allah dapat melebur dosa-dosa setahun sebelumnya
” HR. Muslim,No. 1162.
43. MEMBERI HIDANGAN BERBUKA BAGI ORANG YANG BERPUASA
“Barangsiapa yang memberi hidangan berbuka bagi orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti pahala orang berpuasa itu, dengan tidak mengurangi pahalanya sedikitpun
” HR. Tirmidzi, No. 807.
44. SHALAT DI MALAM LAILATUL QADR
“Barangsiapa mendirikan shalat di (malam) Lailatul Qadr karena iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu
“HR. Bukhari Juz. IV/No. 221 dan HR. Muslim, No. 1165.
45. SEDEKAH
“Sedekah itu menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api
” HR. Tirmidzi, No. 2616.
46. HAJI DAN UMRAH
“Dari umrah ke umrah berikutnya merupakan kaffarah (penebus dosa) yang terjadi di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga
” HR. Muslim, No. 1349.
47. BERAMAL SHALIH PADA 10 HARI BULAN DZULHIJJAH
“Tiada hari-hari, beramal shalih pada saat itu lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yaitu 10 hari pada bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: “Dan tidak (pula) jihad di jalan Allah? Beliau bersabda: “Tidak (pula) jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya kemudian ia tidak kembali lagi dengan membawa sesuatu apapun
” HR. Bukhari, Juz. II/No. 381.
48. JIHAD DI JALAN ALLAH
“Bersiap siaga satu hari di jalan Allah adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya, dan tempat pecut salah seorang kalian di surga adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya
” HR. Bukhari, Juz. VI/No. 11.
49. INFAQ DI JALAN ALLAH
“Barangsiapa membantu persiapan orang yang berperang maka ia (termasuk) ikut berperang, dan barangsiapa membantu mengurusi keluarga orang yang berperang, maka iapun (juga) termasuk ikut berperang
” HR. Bukhari, Juz.VI/No. 37 dan HR. Muslim, No. 1895.
50. MENSHALATI MAYIT DAN MENGIRINGI JENAZAH
“Barangsiapa ikut menyaksikan jenazah sampai dishalatkan maka ia memperoleh pahala satu qirat, dan barangsiapa yang menyaksikannya sampai dikubur maka baginya pahala dua qirat. Lalu dikatakan: “Apakah dua qirat itu?”, beliau menjawab: ((Seperti dua gunung besar))
” HR. Bukhari, Juz. III/No. 158.
51. MENJAGA LIDAH DAN KEMALUAN
“Siapa yang menjamin bagiku “sesuatu” antara dua dagunya dan dua selangkangannya, maka aku jamin baginya surga
“HR. Bukhari, Juz. II/No. 264 dan HR. Muslim, No. 265.
52. KEUTAMAAN MENGUCAPKAN LAA ILAHA ILLALLAH DAN SUBHANALLAH WA BI HAMDIH
“Barangsiapa mengucapkan:((لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ)) sehari seratus kali, maka baginya seperti memerdekakan 10 budak, dan dicatat baginya 100 kebaikan,dan dihapus darinya 100 kesalahan, serta doanya ini menjadi perisai baginya dari syaithan pada hari itu sampai sore. Dan tak seorangpun yang mampu menyamai hal itu, kecuali seseorang yang melakukannya lebih banyak darinya”. Dan beliau bersabda: “Barangsiapa mengucapkan: (( سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ )) satu hari 100 kali, maka dihapuskan dosa-dosanya sekalipun seperti buih di lautan
“HR. Bukhari, Juz. II/No. 168 dan HR. Muslim, No. 2691.
53. MENYINGKIRKAN GANGGUAN DARI JALAN
“Saya telah melihat seseorang bergelimang di dalam kenikmatan surga dikarenakan ia memotong pohon dari tengah-tengah jalan yang mengganggu orang-orang
” HR. Muslim.
54. MENDIDIK DAN MENGAYOMI ANAK PEREMPUAN
“Barangsiapa memiliki tiga anak perempuan, di mana ia melindungi, menyayangi, dan menanggung beban kehidupannya maka ia pasti akan mendapatkan surga
” HR. Ahmad dengan sanad yang baik.
55. BERBUAT BAIK KEPADA HEWAN
“Ada seseorang melihat seekor anjing yang menjilat-jilat debu karena kehausan maka orang itu mengambil sepatunya dan memenuhinya dengan air kemudian meminumkannya pada anjing tersebut, maka Allah berterimakasih kepadanya dan memasukkannya ke dalam surga
” HR. Bukhari.
56..maaf terlewat
57. MENINGGALKAN PERDEBATAN
“Aku adalah pemimpin rumah di tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan padahal ia dapat memenangkannya
“HR. Abu Daud.
58. MENGUNJUNGI SAUDARA-SAUDARA SEIMAN
((Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang para penghuni surga? Mereka berkata: “Tentu wahai Rasulullah”, maka beliau bersabda: “Nabi itu di surga, orang yang jujur di surga, dan orang yang mengunjungi saudaranya yang sangat jauh dan dia tidak mengunjunginya kecuali karena Allah maka ia di surga”))
Hadits hasan, riwayat At-Thabrani.
59. KETAATAN SEORANG ISTRI TERHADAP SUAMINYA
“Apabila seorang perempuan menjaga shalatnya yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menjaga kemaluannya serta menaati suaminya maka ia akan masuk surga melalui pintu mana saja yang ia kehendaki
” HR. Ibnu Hibban, hadits shahih.
60. TIDAK MEMINTA-MINTA KEPADA ORANG LAIN
“Barangsiapa yang menjamin dirinya kepadaku untuk tidak meminta-minta apapun kepada manusia maka aku akan jamin ia masuk surga
” Hadits shahih, riwayat Ahlus Sunan.

Semoga Menjadikan kita lebih mengetahui dan bermanfaat.
Sumber:

Hadist



Follow riodarmala on Twitter
free counters
SMS: 08568382255 eMail: rio_metacom@yahoo.co.id

SERVICE ONLINE

Area, Jakarta Raya
Lebih di Utamakan, Wilayah Jakarta Timur
Sdr. Rio
Specialist IT dan Consulting
Customer bisa melakukan SMS , Call, FB Inbox dan eMail ke di bawah ini, sesuai dengan keluhan dan Area, berikan alamat yang valid serta nama dan menyetujui aturan yang berlaku.
Pelayanan Pekerjaan Hari:
Sabtu / Minggu atau
di sesuaikan dengan perjanjian
Melayani Jasa Services dan Maintenance:
Installasi Server All Varian Brand, Manage and Deploy Server, Manage and Join Domain Client Server, Installasi OS plus Device Ready, Installasi Office Aplication, Installasi Office Multimedia, Installasi Modem ADSL dan Cable, Setting Network Internet dan Intranet, Backup and Restore Data Office, Clean Viruses, Trouble Shooting, Check Hardware Problem, Check Upgrade System, dll.

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes